Saturday, January 13, 2007

One Morning at UI

It was new year morning, and my daughter asked me to drop her off at Kukusan, one of the most popular boarding house places at Depok, where the University of Indonesia campus is located.

New year morning and she said she'd study with her friends for an exam the following day! I hope she's not kidding me...

There I was with camera shooting here and there, capturing objects that attracted my attention.
The campus was deserted by its main inhabitant. There were only few visitors who wanted to kill their times by fishing in a artificial lake, with a sea of garbage on its surface...

UI is one of the oldest and most respected universities in Indonesia. It was established in February 1950 as a multi campus university with faculties in Jakarta (Medicine, Law, and Letters), Bogor (Agronomy and Veterinary Medicine), Bandung (Engineering, Mathematics and Natural Sciences), Surabaya (Medicine and Dentistry), and Makassar (Economics).

In 1954, the Surabaya campus in East Java became Airlangga University; the Ujung Pandang campus in Sulawesi became Hasanuddin University in 1955; in 1959 the Bandung campus in West Java became Institut Teknologi Bandung (ITB or Bandung Institute of Technology); the School for Physical Education Bandung, became part of Padjajaran University in 1960.

In 1964, the Bogor campus became Institut Pertanian Bogor (IPB or Bogor Agricultural University) and the Faculty of Education (FKIP) at Jakarta, became IKIP Jakarta.

Apart from producing graduates who are now becoming important figures in several government posts, UI shall also be able to produce more top quality researchers who are well connected with the business world for the advancement of the country's economy.

I was wondering how many patents had been registered by UI's people,and how many of them had been commercialized. No Noble winners yet for sure. So, UI's boys and girls, wake up!
















12 comments:

  1. "Apart from producing graduates who are now becoming important figures in several government posts,"

    Dan barangkali kelakuan mereka si important figures ini saat ini pastilah hasil dari produk perploncoan para senior sewaktu dikampus dulu ...

    Sekarang masih dipertahankan kah tradisi barbar tsb di UI ?

    ReplyDelete
  2. enaknya bisa leyeh-leyeh di kampus

    ReplyDelete
  3. Kayanya bener kok itu putrinya ujian meskipun masih suasana taun baru. Saya ada adik di FKUI yang kalau kita2 libur, dia gak, ujiaaann mulu kerjaanya.

    Kok gak ada keliatan sampahnya di atas danau buatan, katanya banyak, kenapa gak difoto juga biar bisa diliat,,, Rumayan asri tuh kampus.

    Itu perpeloncoan emang barbarisme menurut saya. Banyak hal2 yang gak manusiawi yang dipraktekkan, penyiksaan, melakukan hal2 yagn jorok dan lain2. Manfaatnya apa coba? senioritas juga kok ya masih kental banget, gak maju2 ntar bangsa kita. Pak bambang alumni ya,, bikin gerakan dong. hehehe,,,

    ReplyDelete
  4. Saya seneng lihat kampus negeri di Indonesia, rimbun dan asri. Sayang, saya ga kuliah di negeri :(

    ReplyDelete
  5. Jadi inget jadul. UI sekarang jauh lebih rimbun, cuma kok danaunya kotor yach?

    ReplyDelete
  6. emang sulit ya ngasih kepercayaan sama anak?
    sedikit demi sedikit harus kita lepas...tapi kadang sebagai orang tua ingin terus melindungi....

    apalagi anak prempuan ya om tjahyo?
    wah...kudu blajar banyak dari istri mas neh....hehe

    ga pernah sih masuk kampus UI....
    mmm..ternyata asri juga yak...(kalo di foto)

    ReplyDelete
  7. Duh...ampek sekarang masih nyesek loh gak bisa masuk UI. Otak gak encer sih..:D Terpaksa kuliah di negri orang deh. Baca blog ini jadi tambah kuciwa...he..he..he..

    ReplyDelete
  8. OMG, I really surprised that someone still care with UI and post a positive story about it.
    I, who graduated from UI, until now still write about the negative side of my campus.

    Maybe I just do that because I want my campus change to a better university :)

    ReplyDelete
  9. i still don't get what is the use of plonco?

    ReplyDelete
  10. Waaahh..
    saya sebagai MaBa (mahasiswa baru) UI agak2 gak stuju juga ya kalo apa yang saya sebut Ospek dan anda2 terhormat sekalian sebut perplocoan itu ditiadakan..

    banyak juga kok manfaat dan sisi positifnya karna setiap tahun ada orang2 hebat yang menginginkan perubahan dari sistem kegiatan itu sendiri..

    Udah lebih beradab dan jauh dari kata barbar.. dan lebih membantu para MaBa menghadapi apa yang yang akan mereka temukan selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di kampus masing2..

    Ospek mengajarkan bukan hanya tentang lulus Ujian masuk dan bisa mejeng2 bangga memakai jaket kuning almamater, tapi juga gimana caranya survive sebagai mahasiswa dan gak malu sama jaket almamater!

    mungkin yang patut dihujat bukan ospek dengan sistemnya,, tapi Biro pendidikan yang dengan biadabnya mengadakan libur minim dengan bayang2 teror UAN/UAS yang membuat lebaran, natal dan taun baru gak ada rasanya.. sampe rasanya pegawai negri kalah sibuk sama mahasiswa..

    hahaha..

    yasudah, disuruh mandi sama papa.. hohoho..

    i'm quit

    ReplyDelete
  11. Kurai Tenshi:
    Saya setuju nduk bahwa bahwa ospek itu positif, yang gak positif itulah yang namanya perploncoan, yang tujuannya hanya buat ngerjain mahasiswa baru tanpa dasar filosofi yang matang dan batasan tekanan fisik dan psikis yang jelas.

    Loh, yang suruh mandi kan saya tadi ya. Ayo buruan, katanya pengin nonton. Lha, koq malah ngeblog lagi!


    Bung yodee:
    perploncoan is the abused and absurd sides of new student orientation program to their new environment, both academic and non-academic.

    As far as I know, ITB had abandoned such practice, triggered by the death of a student during perploncoan.

    Students who were caught still entertaining it received instant dismissal.

    I believe Pak Usman Chatib, my dear friend, will be able to discipline the students (before becoming minister...)


    Tempe Goreng:
    Outsiders normally can only see the good side of the institution Bung.
    Insiders know a whole lot more, but seldom tell the truth to the rest of the world, most probably to protect the image, and to maintain self pride....


    coffeeliqueur:
    Percaya gak percaya Jeng, karena gagal pada percobaan pertama, saya blajar tiap hari slama satu stengah tahun gak pernah berhenti untuk bisa masuk ITB.
    Maklum otak juga gak encer seh...


    Jeng Nila:
    Ya, ya, saya yang suka paranoid, bini tenang2 saja...
    Kampus UI memang asri koq jeng


    Bung Aris Heru:
    Asri, rimbun dan bersih koq Bung. Aku tadi pagi nganter anakku ke Depok, dan jam stengah enam pagi sudah rapi dibersihkan.

    Gak sempet nengok danaunya apakah sudah bersih atau belum. Mudah2an sudah. Salam.


    Bung Hedi:
    Gak apa2 Bung, wong kompetisinya memang edan2-an. Musti ada pengorbanan.


    Bung Alex Ramses:
    Sampahnya ada terlihat di foto koq Bung. Gak sampai menuhin danau sih.
    Secara umum, kampus UI terpelihara dengan sangat baik, asri dan rapi. Petugas kebersihannya pun pagi2 sudah rajin membersihkan jalanan.

    Mudah2an banyaknya sampah di danau karena blum sempat dibersihkan stelah malam tahun baru itu.
    Smoga Pak Rektor-nya bisa 100%menghentikan perploncoan tahun ini, jangan sampai menunggu ada korban seperti di ITB tempat saya kuliah dulu.

    Pak rektor UI-nya baik koq, dan sempat saya bilang kepada beliau bahwa beliau pantas jadi menteri. Smoga.


    Jeng Ambar:
    Iya jeng, angin semilir membuat bpk2 itu lelap seperti tidurnya bayi kekenyangan...


    Bung Maiden:
    Perploncoan masih ada bung. Mental egalitar belum lagi ditanamkan.

    Mahasiswa dihormati berdasarkan senioritas ketimbang kualitas keluaran dan besarnya sumbangan terhadap kehidupan akademik dan sosial.
    Jika hal yang sama masih terjadi pada staf pengajar, seperti jaman saya masih kuliah, maka sulit bagi universitas dalam memikat bibit unggul untuk menjadi dosen.
    Pak Rektor, Pak Dekan, ayo dirubah!

    ReplyDelete
  12. belom pernah masuk kampus UI, ternyata bagus juga yah karena ga kuliah di UI

    itu yang mancing disana orang umum ya?? kok bisa danau buatanya jadi kotor apa sebabnya padahal kan berada dilingkungan intelektual yang tau akan kebersihan :(

    ReplyDelete