Saturday, September 27, 2008

Tentang Penelitian Itu

Pernyataan ini sudah lapuk, namun tetap saja layak di ulang, bahwa tidak ada negara, masyarakat, perusahaan atau perseorangan yang maju tanpa landasan pendidikan dan penelitian yang kuat. Jika pun ada, hanyalah berkah sesaat dari langit, dan karunia itu tidak bertahan lama jika kekayaan yang diperoleh tidak ditanam kembali untuk memperkuat pendidikan, penelitian, pengembangan produk dan jasa, dan lalu memperdagangkannya.

Masalah bagi sebagian besar negara berkembang dan terbelakang adalah karena banyak diantara pemimpinnya terlalu disibukkan dengan permainan kekuasaan, apakah melawan kaumnya sendiri, baik yang direkayasa kekuatan asing maupun tidak, atau pun kewalahan menghadapi kekuatan maha dahsyat dari apa yang disebut John Perkins sebagai corporatocracy, sehingga menyisakan sedikit perhatian pada pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya.

Meski kedigdayaan persenjataan dan sistem yang bersumber pada pengetahuan dan rekayasa yang seunggul apa pun akan sangat sulit untuk membunuh pemikiran akan kebenaran, keadilan dan martabat bangsa, namun kedigdayaan itu telah terbukti mampu menghisap kekayaan dan memiskinkan sebagian besar masyarakat dan bangsa yang kurang berpendidikan, terang-terangan maupun secara tersembunyi.

Karena itulah kita dukung keputusan pemerintah untuk melaksanakan ketetapan MPR dengan mengalokasikan 20% dari APBN 2009 untuk pendidikan, meski ada ketidakpuasan karena di dalamnya termasuk untuk gaji guru. Persiapan dan pengawasan pelaksanaan yang matang, dan penindakan tegas, akan meningkatkan ketepatan priotitas alokasi dana, dan memperkecil kebocoran karena korupsi.

Peningkatan anggaran penelitian dari 0,001% GDP di 2008 menjadi 0,157% GDP di 2009 nanti juga kita sambut baik. Sebagai perbandingan, persentase anggaran penelitian terhadap GDP di negara lain adalah: Thailand 0.28%, Malaysia 0.63%, Singapura 2.24% Taiwan 2.42%, dan Korea 2.63%. Sementara Jepang 3.20% dan Amerika Serikat 2.66% dari GDP.

Persoalannya bukanlah semata bagaimana agar rasio anggaran penelitian terhadap GDP bisa setingkat dengan negara lain, dan lalu berharap bangsa ini mampu melesat maju secara dramatis dalam waktu singkat. Sebaliknya lah yang akan terjadi jika kerangka prioritas penelitian dan pengawasannya tidak dipersiapkan secara matang.

Penelitian akan membawa kemajuan bangsa ketika terkait dengan peningkatan nilai tambah material yang dikeruk dan dihisap dari bumi, terkait dengan peningkatan kekuatan persenjataan militer dan mampu mendorong kegiatan perdagangan pengusaha nasional. Keterkaitan kuat antara kegiatan penelitian di laboratorium dengan kemajuan militer dan perdagangan nasional sangatlah penting.

Saat ini PT INKA, misalnya, telah mampu membuat gerbong kereta api sendiri dengan kualitas baik, dan kita syukuri itu. PT INKA tentunya berencana untuk meningkatkan kemampuannya untuk membuat rancang bangun lokomotif sendiri. Untuk itu PT INKA harus mendapat dukungan kuat dari perguruan tinggi, Teknik Mesin ITB dan UI misalnya, dengan mengarahkan penelitian sebagian dosen, mahasiswa S-2 atau Mahasiswa S1 untuk menopang pengembangan produk PT INKA.

Sementara itu Jurusan Teknik Kimia, Sekolah Farmasi, Biologi dan Teknik Mesin, sudah harus secara serius menjalin kerjasama penelitian yang kuat dengan pengusaha nasional dalam menciptakan alat dan reagen untuk diagnosa penyakit, seperti untuk TB, diabetes, infeksi, malaria, dengue, dsb. BBPT dan LIPI bisa berperan sebagai fasilitator maupun katalisator.

Perhatian yang lebih besar juga perlu dicurahkan terhadap penelitian dan pengembangan produk PT Dirgantara Indonesia, PT PINDAD, PT PAL, LAPAN dengan teknologi roket-nya, serta industri-industri strategis lain. Industri militer yang kuat dibutuhkan oleh negara untuk menjaga kedaulatan ekonomi dan politiknya.

Dewan Riset Nasional sepertinya harus bekerja lebih keras lagi, dan mungkin perlu diisi dengan lebih banyak pemikir dan praktisi penuh waktu, untuk terciptanya kerangka riset nasional terpadu yang jauh lebih tajam, terbentuknya jaringan riset pemerintah-perguruan tinggi-bumn-swasta-masyarakat yang kuat, dan pemanfaatan dana riset yang cerdas.

Catatan:
Penulisan artikel ini dibuat dalam bahasa Indonesia, terinspirasi oleh Tetralogi Buru karya emas Pramoedya Ananta Toer, terutama sekuel ketiga: Jejak Langkah. Tetralogi Buru terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.


Get The Aroengbinang Project new articles delivered to your inbox. Free!
Enter your email:



Subscribe with Bloglines
Subscribe with Bloglines

17 comments:

  1. Setuju banget! Kerjasama para univ barangkali perlu juga menembus pemda di tiap lokasi univ itu berada. Jadi tridarma PT beneran terlaksana.

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan buah pikian Anda , Pakde. Nulis lagi tentang alokasi 20% dana Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara untuk pendidikan dong.
    Menurut saya, untuk membentuk sebuah sistem yang kuat dan ideal seperti yang dikemukakan di atas, maka sendi terkecil dari sistem tersebut yang lebih dulu harus dibenahi. Misalnya pendidikan dasar, dari TK sampai SMA, yang maaf... subhanallah... kian mahal jua.

    ReplyDelete
  3. Noonathome: benar juga, banyak pemda dan akademisi di universitas seperti tetangga dekat yang tidak saling mengenal dan hidup di dunianya masing-masing.

    Ayu: Dengan GDP 2009 diperkirakan mencapai Rp 5,297 triliun, maka anggaran pendidikan sebesar Rp.224 triliun itu setara dengan 4,2% dari GDP, yang kira-kira sebanding dengan rasio anggaran pendidikan terhadap GDP di China. Sementara anggaran pendidikan di negara-negara OECD sekitar 5% dari GDP.

    Persoalannya memang akan dikemanakan anggaran sebesar itu, di mana prioritasnya, bagaimana pengawasan dan ketegasan sanksi terhadap penyelewengnya. Yang selalu rawan korupsi adalah pembelian barang modal. Menjadi pertanyaan besar mengapa sistem tender yang masih tetap rawan permainan itu tidak juga dibereskan.

    Komisi Pemberantasan Korupsi di sektor pendidikan hendaknya lebih keras, dalam dan tegas, karena sungguh tidak ada harapan jika pilar-pilar pendidikannya sendiri masih tetap keropos dan busuk.

    ReplyDelete
  4. wah kok jadi bahasa indonesia om? lama tak maen ke tempatnya om nih... btw merayakan idul fitri tidak? kalo iya saya mo mengucapkan mohon maaf lahir dan batin

    ReplyDelete
  5. Saya teringat Habibie dengan program beasiswa BPPTnya. Berbondong2 lulusan SMA disekolahkan di luar negeri utk mendapatkan S-1, S-2 dan S-3. Tetapi setelah kembali ke tanah air, mereka yg disekolahkan tsb banyak yg lari ke swasta karena pemerintah tidak mampu memberikan penghasilan dan fasilitas kerja/penelitian yg memadai.

    Bukan juga salah pihak swasta yg akhirnya memanfaatkan keahlian para lulusan ex beasiswa BPPT.

    Diperlukan adanya link and match serta sinergi dalam mengembangkan dunia penelitian di Indonesia dan upayanya untuk dapat memenuhi kebutuhan pragmatis.

    ReplyDelete
  6. Untuk hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak, apakah riset dan pengembangan itu dapat diaplikasikan? Karena ketika akan diaplikasikan tentunya harus berhadapan dengan birokrasi yang sekarang lebih senang melihat pemilu lokal maupun nasional yang akan terjadi.
    Masyarakat kita sekarang sedang senang adu jotos membela jagoannya. Nanti kalau mau mudik atau harga BBM mau naik lagi, baru mereka sibuk mempertanyakan hasil riset dan pengembangan.

    ReplyDelete
  7. Iya, jadi kagok niey, biasanya bahasa inggris, makanya aku komeng dulu baru baca *hihihi

    ReplyDelete
  8. betul itu....
    sudah dididik dan disekolahkan dengan fasilitas yang baik ae belum tentu bisa jadi orang baik je...
    apalagi dianggurkan angon wedhus?

    ReplyDelete
  9. mohon maaf lahir dan batin wae kang!

    ReplyDelete
  10. well which language is this?? i could understand if you tried to write in English. :(
    sorry dude did not get you.

    ReplyDelete
  11. Hi, I love to read your post. But I'm sorry to say that i don't know this language. I love to watch the appearance of the post. Thanks for sharing this in your post with us.

    ReplyDelete
  12. dosen saya bilang, dia ndak sempet penelitian gara2 banyak kerjaan yang nggak ada sangkut pautnya dengan perkuliahan dan riset..wakakaka

    ReplyDelete
  13. Memang betul kesejahtaraan para peneliti Indonesia harus ditingkatkan jika bangsa ini ingin epat maju

    ReplyDelete
  14. This is new language to me. I dint understand but I like the theme of your post. I love to see the theme and design. Thanks for sharing this lovely appearance to me. Good effort.

    ReplyDelete
  15. bung ghozan:
    ditulis dalam bahasa indonesia karena terinspirasi cerita jaman pergerakan yg ditulis Pram di Jejak Langkah, bagian dari Buru Quartet. Di sana tokoh Minke, yang selalu membuat tulisan dalam bahasa Blanda, ditantang untuk membuat tulisan dalam bahasa Melayu, agar orang pribumi bisa membaca dan mendapat pencerahan.
    Ho'oh aku berlebaran, mohon maaf lahir batin juga.

    bung Aris:
    slese membaca buku the True Life of Habibie yang ditulis Makmur Makka membuat pikiran mengembara kemana-mana...
    Apa yang dilakukan Habibie harus diteruskan. Tanpa penguasaan pengetahuan dan teknologi tinggi, negara ini akan terus menjadi budak pasar, diperbodoh dan ditindas.

    bung zulphiandie:
    Riset dan pengembangan tentu dapat di setiap aspek kehidupan, bahkan yang paling sederhana sekali pun.
    Aplikasi komersial dan komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan yang perlu diarahkan dan dipacu, agar bermanfaat bagi kemajuan. Hendaknya dihindari pembelian barang2 modal import mahal yang tidak menyumbang terhadap perkuatan perdagangan nasional.

    LiSan: dah dijelasin di atas ya nduk...
    Ndoro Seten: kalau untuk jadi orang baek, angon wedhus juga bisa jadi orang baek koq ndoro...:).
    Ho'oh mohon maaf lahir dan batin juga...

    complaints, Proxy, Home Renovations: it's time for you all to know and to learn Bahasa Indonesia....:)

    cewektulen:
    saya pikir pengertian dan sasaran penelitian di perguruan tinggi yang masih banyak terbelakang; gak ada visi dan kaitan untuk komersialisasi hasil penelitian.
    kalau toh ada, hanya berhenti pada harapan, namun tidak berusaha secara dini untuk membangun jaringan dengan pengusaha nasional.

    Ampuh:
    Peningkatan kesejahteraan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas, tanggung jawab, dan kontribusi peneliti terhadap kemajuan perekonomian nasional.

    ReplyDelete
  16. salam kenal
    saya stuju dengan pendapat diatas yang mendasari semua itu adalah pendidikan dan penelitian..untuk itu saya harapakan pemerintah untuk lebih serius dalam menangani pendidikan di indonesia

    ReplyDelete
  17. Saya tertarik dengan pendapat berikut :
    "Peningkatan anggaran penelitian dari 0,001% GDP di 2008 menjadi 0,157% GDP di 2009 nanti juga kita sambut baik. "

    Mungkin bisa tolong untuk dibagi informasinya tentang data jumlah nominal anggaran untuk pernyataan diatas?
    Sebab saya sedang menulis thesis tentang "tingkat inovasi di Indonesia", dan salah satu variabel untuk menganalisisnya adalah pengeluaran untuk R&D, dan saya kesulitan menemukan data detail tentang jumlah anggaran penelitian pertahun di Indonesia.

    Terima kasih atas bantuannya

    ReplyDelete